Rumah Kata

tempatnya cerita indah dan puisi romantis

  • Home
  • Business
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Parent Category
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Featured
  • Health
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Business
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Downloads
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Parent Category
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Featured
  • Health
    • Childcare
    • Doctors
  • Uncategorized

Thursday, January 10, 2019

Novelet Remaja :Hijab Jingga Kinar bagian II

 cicih surya     7:39 AM     Novelet     No comments   

Di episode yang lalu  Kinar marah marah menghujat siapa saja yang membuatnya terluka. Dunia terasa tak adil padanya. tapi dia harus kuat untuk ibunya. penasaran dengan kisah selanjutnya silahkan masuk, ngantri ya,,,
Sahabat Saat Senja

Words have left us all alone
And somethings come between us
To turn the fire cold
Toughts than chase you in the night
Silently the storn
The life from in the eyes
And I remain alone, no matter who
May try and take your place
Oh no
(Lirik dari I’ll Remember You
Artis Atlantic Starr)


 KAMAR bernuasa biru dengan desain minimalis menyimpan semua kegelisahan yang dirasakan lelaki muda yang senang memakai celana batik. Hari ini semua semakin kacau, apa yang dilakukan rasanya salah. Angin yang berhempus lembut saja tidak mampu menyejukan suasana hatinya yang gulana.
Arda lelaki berperawakan sedang, rambut yang dicat cokelat gelap. Melempar kasar handphone miliknya di atas kasur,”Hanya dibaca” gerutunya amat kesal, rambutnya diremas dan menjerit tertahan. Otaknya masih waras semarah apa pun dia tak harus membuat geger seisi rumah dengan menjerit- jerit seperti manusia kesetanan.

Akhirnya dia hanya menghembuskan napasnya panjang dan berat.  Memejamkan mata mencoba menenangkan hati meskipun sulit sekali. “Sampai kapan kamu akan diam, Sayang?” Katanya lirih diantara kesedihan dan kerinduan yang  dalam. Keputusan akhirnya dia terduduk lesu di sudut ranjang, menatap senyum manis kekasihnya,dari foto hitam putih yang bertengger angkuh di meja kerja.

Kembali buntu, desainnya kacau,bayangan wajah Kiran yang menunduk sedih saat berlalu, sore itu terus mengganggunya selalu menari menghiasi setiap sudut, ke mana pun matanya memandang.

    “Bagaimana aku tak marah, aku melihatmu menyentuh pipinya kalian begitu dekat.” Ungkap Kiran sangat marah dia berusaha mengatur napas tapi tetap saja amarahnya lebih besar. Api di dadanya tak padam begitu saja.
   “Aku sudah katakan padamu dia sudah ku anggap seperti adikku, Sophia tak punya siapapun di kota ini selain aku, dia sedang sedih aku berusaha menghiburnya, itu saja!”
  “Kau bijak sekali...,berusaha membuat gadis lain tersenyum dengan menyakitiku”
  “Cemburu mu berlebihan. Itu persoalannya”
 “Mungkin kau benar. Aku berlebihan karena cemburu pada orang yang ku sayangi dan adik perempuannya, Aku perempuan Beruang madu, Aku tahu sophia mencintaimu bukan sebagai adik memandang kakak lelakinya , tapi tatapan perempuan pada kekasihnya”
 “Kau bahas itu lagi, Please berhentilah bermain dengan perasaanmu sendiri!”
 “Aku sayang kamu.”
 “Aku tak tahu Arda apakah aku harus percaya perasaanku atau membuka mata dan melihat kenyataan, Kau lebih sering menghabiskan waktumu dengan Sophia, ketika bersamaku kau masih sempat terus berbalas chat dengannya. Tertawa dengan lelucon Sophia yang sebenarnya basi” Air mata Kiran mulai jatuh semakin lama, semakin deras tak ada lagi kata yang di ucapnya. Dia mengelak saat Arda berusaha memeluknya dan memilih pergi tanpa pamit, Lelaki berkaos Army itu hanya mampu menatap punggung Kiran.

Hampir sepuluh hari sejak itu Kiran tak pernah membalas chat yang dia kirim, hanya di baca tanpa di balas. Batu jika sudah marah memang begitu, diam saja. Di cari ke tempat kerja tak ada, selalu saja ada alasan untuk menghindar, dinas luar lah , tugas lapanglah di rumah nya juga tak mau menemui.

“Ki, aku  sudah berusaha jaga jarak dengan sophia, Maafkan aku ya” Arda kembali mengirim chat, dan dia harus kembali kecewa karena sampai keesokan harinya pesannya masih dianggurin sama Kiran. Arda menghela napas berat berkali-kali, makanan di piringnya sekoyong-konyong menjadi menjijikan. Perutnya kenyang karena kesal.

 “Elu itu Profesional dong, deadline nih. Gua udah kena semprot Pak Satrio” Rama bicara dengan nada keras. “Gua udah kasih elu tenggang waktu, Sob. Pak Satrio Kan nyarinya Gua bukan elu. elu pikirin juga dong reputasi gua.”
 “Iya,Ram so sorry ok, Gua beresin sebelum jam pulang.”
 “Jam pulang,” rungutnya “Jam 02 di Meja gua.” balas Rama tak ramah.
 “Ok...,  jam satu ada di meja elu, Bos” kata Arda tertantang.
 “Gua suka gaya lo! Itulah temen gua, on fire, setahu gua desain cetek kayak gini elu bisa beresin setengah jam,ini satu minggu belum kelar.” goda Rama berusaha membangkitkan api semangat sahabatnya.
“Berisik luh...!”
 “Kinar, Kau sukses membuat temanku gila” seloroh Rama sambil berlalu meninggalkan Arda yang sibuk memainkan mousenya. dan hanya mampu menyunggingkan senyum hambar” Kinar” bisiknya lembut pada dirinya sendiri.

Kemudian tangannya menari lincah menghasilkan desain yang diminta. Sesekali  dia menghentikan gerakan tangan dan menatap hasil kerjanya. Bergerak lagi di tatap lagi sampai akhirnya  dia tersenyum. Setelah 3 kali melihat hasil print out. Arda tersenyum puas kemudian melihat handfhone, "20’. “New recort!”
 “Wow...,Elu jenius, Sob!”komentar Rama antusias, melihat hasil kerja sahabat karibnya
 “Udah sana setorin, posisi lu bahaya kalau telat, Pak Satrio itu klien potensial buat kita, rugi gede kita kalau dia minggat. Susah gua nyicil rumah...”
 “Ok Bro doain lolos acc”
 “Yups, so pasti!”

***
Tanpa Kinar hidupnya tak lengkap seperti sepasang penari yang kehilangan patner saat kompetisi penting. Bayang-bayang Kinar menghias langit-langit kamar membuatnya tak mampu memejamkan mata meski hari hampir pagi.

“I ll’ remember you. Kinar” dikirimnya chat jam 02 pagi
 “Aku sudah memaapkan mu tapi masih malas bicara denganmu” balas Kinar beberapa menit ber selang. Senyum Arda mengembang sempurna, beban berat yang menindih jiwanya sirna seketika. Bayangan awan hitam berganti pelangi di setiap sisi.
 “Mimpi indah ,Sayang”
 “Tidurlah Masih malam, besok kamu kerja”
 Arda membalas dengan emoticon cium. Tapi balasannya hanya kesunyian. Rasa kantuk kemudian bertamu menyerang matanya begitu kuat, hingga HP yang dipengangnya jatuh di atas kasur.

Hari ini aku pahami
Rindu Itu jahat
Tak sanggup aku tidur
Aku tak kuat
Kinar 

Bukan Sophia yang cantik jelita yang membuatnya bahagia, Kehilangan perhatian manis Sophia tidak  membuatnya acak-acakan. Yang dirindukannya adalah kemanjaan Kinar, galaknya  aduh beneran nggak kuat deh, benar ternyata apa yang di katakan Rama sahabatnya. Kinar punya daya tarik yang berbeda  bukan karena dia cantik, tapi karena kepribadiannya yang menarik. Mampu membuat siapapun yang mengenalnya jatuh cinta.

Ah Kinar seandainya kamu mengerti kehilangan perhatian kamu itu bencana terbesar dalam hidupku. Rasa rindu membuatku tak mampu menjauh dari kamu, kau sudah menggenggam hatiku.
Aku tak membutuhkan seseorang yang lebih cantik atau lebih cerdas, kau sudah cukup Kinar. Sungguh kau cukup untukku, Kamu saja sayang.

Saat usia semakin menua kala cinta birahi sudah tak ada, biarkan aku menggenggam tanganmu sebagai dua orang sahabat yang saling berbagi, mengerti dan terus menghujanimu dengan kasih sayang yang tak pernah habis meski musim berganti.

Kinar, bukan si cantik atau si upik abu dia perempuan biasa yang membuat dunianya berubah.
Tak ada ambisi untuk menaklukan sang primadona lagi, tatapan mata Kinar yang teduh menyimpan ribuan luka tlah menundukan egonya, biar saja dunia menilainya bodoh karena memilih Kinar. Diantara banyaknya pilihan terbaik yang bisa dia dapatkan.
    Dia sudah memutuskan hatinya fokus untuk seorang dara bernama,Safitri Kinara.
 Bersambung

 Teman sejati adalah dia yang bisa mengetahui apa yang kau rasa meski kamu tidak bercerita.
dia melihat hatimu hanya melalui pandangan mata

See u My Dear



    

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Tuesday, January 8, 2019

Novelet Remaja: Hijab Jingga Kinar Bagian I

 cicih surya     12:46 PM     Novelet     No comments   



 Purnama Terbaik


Aku tak diajari untuk membenci.

Layaknya lembayung senja

Tak marah digantikan malam

Seperti laut yang tenang menjadi muara segala nista dan cahaya

Beri aku luka untuk berkaca

Sahaya sang mahadaya

Pemilik semesta

Bisakah hamba

Wahai Raja?
               

 Dunia adalah tempat gelap dan terang, siang dan malam menjadi gambar. Mampukah membaca makhluk tuhan berakal? Jika tidak, belajarlah untuk mencerna, agar tak hanya bisa mencela tapi mampu menjadi cahaya. Jika itu kau tak mampu diam adalah permata.
                Malam ini semilir angin terasa sunyi seperti langkah gontai tanpa tenaga, Kinar gadis itu biasa disapa, rambutnya hitam berobak sebatas bahu biasanya dikuncir kuda tapi malam ini di biarkan tergerai beitu saja.
Dilemparnya kerikil ketengah laut yang tenang tanpa ombak. Purnama diatasnya diam saja enggan menjadi teman bicara. Sudut mata mulai alirkan anak sungai perih rasanya.
“Apa dosaku? Apakah bisa seorang anak memilih siapa yang menjadi orang tuanya” desisnya diantara perih yang menghujam jantungnya. Tangisnya membahana memecah kesunyian laut yang seolah mati suri, purnama semakin terang laut tenang kepedihan menghujam hingga kakinya terasa lemah tak kuat menahan beban berat badannya.
Menjerit –jerit menghujat siapa saja yang menyakiti. Arda, tante Miranda, Ibu, juga Sophia. Puas rasanya meskipun mereka tidak mendengarnya, tapi beban berat di dada rasanya sirna, dihapusnya air mata dengan punggung tangan, menarik nafas perlahan mengambil kembali ketenangan.
Melirik handfhone melihat jam, 22.57 angka yang ditunjukan gaway nya, menggela napas sejenak lalu berjalan cepat menuju parkiran. Motor meticnya setia menanti. Wajah ibu terus membayang membuat Kinar menjalankan motor seperti kesurupan.
Ibu menanti di teras rumah menanti putrinya dengan gelisah, pesannya dari tadi tak dibalas. Niat nelp pulsanya sekarat akhirnya perempuan paruh baya dengan daster hijau bermotif bunga itu hanya mengumpat.
Vario hitam metalik berhenti tepat di depannya, Kinar membuka helm dan segera mengajak ibu masuk “Harusnya ibu tidak menunggu di luar.”ujarnya iba melihat wajah ibu yang kurus dan pucat.
“Dari mana saja, ibu sudah bilang kalau terlambat pulang ,kabari.”
“Maap, Bu.  Pulsa Ki habis, Ki cuma punya quota” kilahnya  sembari menerima teh hangat yang diberikan ibunya.
“Makanlah, sayurnya sudah ibu hangatkan”
“Iya” jawab Kinar menurut, sambil berjalan menuju dapur.
Di meja tua Kinar makan ditemani ibunya. Sop sayuran tanpa danging cukup untuk mengganjal perutnya malam ini. Tak sampai sepuluh menit Kinar menghabiskan nasi di piringnya.
“Ki..., ada yang menggangumu lagi?” tanya wanita itu sambil menyentuh lembut jemari putrinya
“Dari mana Ibu tahu?”
“Aku Ibumu, Kedipan matamu bercerita semuanya padaku, Nak”
“Bu, bolehkah Ki tidak mengatakan pada Ibu?”
“Baiklah kau sudah besar ya...? mulai punya rahasia.” Balas sang ibu mencoba tersenyum meskipun hatinya gelisah melihat raut sedih sang putri.
“Peluk Ki saja” Kinar tersenyum dan mengelayut manja pada bahu kurus ibunya.
“Katanya punya pacar, tapi tidur masih harus dikelonin ibu.”Goda ibu sambil mencubit hidung mancung gadis cantiknya yang manja.
Sebelum tertidur Kinar seperti teringat sesuatu, setengah meloncat dia turun dari ranjang dan berlari mencari sesuatu di dekat rak tivi.
“Ibu lupa minum obat, minum dulu!” katanya dengan nada memaksa. Sang ibu menatapnya minta pengampunan. Kinar menggelengkan kepala.”Bu, lakukan untukku”
“Ibu bosan, Ki”
“Bu”
“Ki, malam ini saja, Ibu tidur tanpa obat” rengek ibunya manja. Kinar menggeleng lagi.
“Kuku ibu sudah berjamur, ketombe ibu besar-besar. Ibu harus disiplin minum obat.
“Ibu malas dengan mual dan muntahnya, Ibu bosan harus terus minum obat, setiap hari Ki “
“Besok Ki libur kita jalan-jalan, jadi kondisi ibu harus vit” rayu si cantik sambil tersenyum. Perempuan dengan rambut keriting dan ditumbuhi uban menyerah, diambilnya obat dari telapak tangan putrinya dan menelannya. Kinar tersenyum senang diciumnya kening Ibunya.”Hiduplah untukku ,Bu!” bisiknya sebelum kembali menyimpan gelas ke dapur. Sementara ibu menatap punggung putrinya sedih.
Meminum obat setiap hari, kondisinya tetap sakit sakitan. Terkena panas terlalu lama badannya demam,  menantang angin flu bertamu. Selalu ada saja yang membuatnya merasa tidak sehat. Sebenarnya semua sakit di badan sanggup diatanggung. Karena ada yang lebih sakit dari itu. Saat Risma harus berjuang supaya Kinar bisa diterima di sekolah, mulai dari TK sampai lulus SMU, masuk sekolah baru adalah perjuangan yang amat melelahkan, bukan karena biaya tapi karena Kinar tak memiliki Akta kelahiran. Entah nama siapa yang harus tercantum disana.
Pihak sekolah kemudian memang merahasiakan identitas Kinar sebagai anak yang terlahir tanpa terikat dengan pernikahan yang sah, tapi seperti menyimpan seonggok bangkai, bersama waktu selalu saja ada yang tahu jika Kinar tak mengetahui siapa dan seperti apa ayahnya.
Tatap mata menghina lebih menyakitkan dibanding seribu hinaan, dan tikaman jutaan pedang, Risma menangis menyesali diri setiap kali, Kinar meminta pindah sekaloh karena tak tahan dengan bullyng.
Hidup berpindah –pindah kota sudah jadi hal biasa untuk Risma dan Kinar, seorang sahabat baik meledeknya sambil bercanda
”Seperti diplomat saja setiap enam bulan harus pindah kota. Jika aku kaya akan ku buat sekolah khusus untuk Kinar. Kau Ibu yang hebat Risma.”
“ Aku hanya hidup untuk Kinar, dia tidak akan membuka mulut jika masih sanggup menghadapinya. Jadi jika dia sudah minta pindah artinya sudah sampai di level bahaya”
“Jaga dirimu, kabari aku jika kau butuh sesuatu”
“Kau akan jadi orang pertama yang tahu kabar kami”
“Kinar, Simpan ini. Kau akan membutuhkannya di tempat baru.”
“Terimakasih Tante Mira”
“ iya”
Penggalan-penggalan hidup selalu membayang saat rasa sakit mendera ,dan Risma harus terbaring seorang diri karena Kinar putrinya harus bekerja mencari nafkah untuk menyambung hidup mereka. Obatnya memang gratis, tapi beras dan lauk-pauk tetap harus di dapat dengan berjuang.
Pemimpin berganti era berubah tapi baginya tak ada yang berbeda, sama saja ,beban hidup semakin hari semakin berat, harga melambung, macet dimana-mana pekerjaan dengan upah layak sepertinya hanya mimpi indah, layaknya dongeng peri ajaib yang diceritakan pada anak sebelum tidur.
Dusta adalah sesuatu yang dianggap lumrah karena sudah terbiasa” Semoga Kinar tetap kau jaga dari para pendusta dan segala mara bahaya ya Rob. Meski aku perempuan yang berlumur dosa, Kabulkanlah doaku sebagai doa seorang ibu yang  yang kau janjikan dijawab tanpa ditangguhkan” rintih Risma lirih dalam sujud terakhir selepas senja.
Kinar adalah purnama yang menyejukan mata lelahnya, menjadi alasan mengapa dia harus tersenyum dan berjuang untuk sembuh dari sakit yang menggerogotinya.  Mengalahkan musuh terbesarnya saat ini yaitu kebosanan, kebosanan, dan kebosanan.
Berjuang melawan mual dan muntah, pusing seharian setelah meminum obat. Dokter yang merawatnya selalu berpesan disiplin jika ingin terus hidup. Kalahkan Rasa sakit agar mampu menyambut matahari esok hari. Bersambung

 Sakit apa sih Bu Risma sampe segitunya banget ? 
penasaran kan tunggu besok ya, datang lagi Kesini

Hidup tak pernah ada yang mulus sebab dunia adalah tempat manusia melalui ujian. Miliki hati yang kuat untuk melewati setiap jalan.

See you dear         

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Friday, October 5, 2018

Cerita malam Hujan di pucuk senja

 cicih surya     8:53 AM     cerita pendek     No comments   

Hujan di pucuk senja


Seluruh tulang terasa remuk ,bukan karena angin mengamuk ,tapi karena kau diam bibirmu terus mengatup pipimu mendadak gemuk , Angin Selatan berubah sudah ,tugasnya usai kata Babah
Mesin waktu berjalan pelan namun pasti terus mendekat.

Ku naiki titian tangga atas nama takdir , Aku menunduk menerimanya. Seperti daun kering yang patuh jika waktu harus terjatuh.

Aku memang aku... bukan dia mereka atau siapa .Mata coklatku ,hidung tak mancung ,Kulit tak putih tapi aku tetap manis aku cantik dengan keadaanku , Karena Dia Adalah Maha sempurna yang menciptakan setiap hambanya dengan sebaik- baik bentuk

Panggilan kembali terdengar. Aku bergegas merapikan pakaian. Lalu keluar dengan wajah semeringah  Mungkin kali ini Pak kepsek akan luluh menandatangani surat  kelulusanku. Ku patut wajahku di depan cermin berhias tipis agar pantas berjumpa orang yang ku Hormati .
Bagiku berhias bukan untuk terlihat cantik , Tapi karena Buk kepsek mengatakan wanita berhias adalah tanda syukur pada Alloh bahwa kita  di takdirkan jadi seorang wanita. Dan agar kita tidak menyerupai laki-laki  Karena tidak di bolehkan perempuan menyerupai laki-laki , begitupun sebaliknya.
 Berhiaslah tapi sebaik-baiknya berhiasan adalah Iman dan takwa. yang melahirkan Ahlak mulia senyum tulus kata yang penuh nasehat kebaikan dan doa.

Ah..., semuanya mudah di katakan seperti pujangga yang mampu melahirkan ribuan puisi saat dia jatuh cinta  atau saat patah hati tapi pengamalannya sulit sekali saking sulitnya mungkin sepanjang hidup belajar hanya mampu untuk mengerti tapi tak sempat mengamalkan.

Aku bergegas menuju pintu berlari keluar dengan tak sabar. meniti anak tangga lebih dari seribu lalu berjalan terus menanjak berpegang seutas tali sebesar kelingking bayi, jembatan kawat yang merapuh di mana-mana adalah jalan yang harus ku lalui jika ingin bertemu Babah di puncak bukit .
Ku ucap basmalah menutup mata , kaki melangkah mengandalkan rasa hati. mengandalkan cahaya suci dari wahyu ilahi.
Tak ada daya dan kekuatan melebihi kehendak Mu ,Jika  Engkau menghendaki sesuatu jadi maka jadilah. Saat ku buka mata  pintu gerbang terbuka Senyum Babah di sana. berjalan menjejeri langkahku ,"Aku tak pernah percaya Hari ini aku harus melepaskanmu...., Aku mendidikmu sejak usiamu tujuh tahun, Saat itu kau tak tahu bahwa Alif itu berdiri dan ain di baca dengung. tapi kini kau mampu melakukan semuanya meninggalkan aku yang tua di pertapaan. Aku terdiam tersayat bathin mendengar tuturnya.  aku selalu ingin pergi tapi benarkah ini hari perpisahan???  aku baru tahu aku tak siap untuk melewati setiap perpisahan maka itu aku hanya tertunduk diam.

"Aku sudah pernah katakan Kau muridku tapi aku menyanyanyimu seperti putriku. Aku bahagia saat kau merengek manja minta keringanan pelajaranmu . kau tahu aku selalu mengajarimu dengan cara paling sulit dan paling berat tapi kau selalu selesai dengan waktu tercepat dan jawaban terbaik."Helaan napas berat terdengar aku makin terduduk dalam tangis yang pilu

"Sebenarnya kau sudah lulus sejak tiga tahun lalu saat ku buatkan kau jendela agar kau dapat melihat dunia dari atas menara. tapi aku masih takut bahwa kakimu tak mampu.... Maka aku menahan Izajahmu agar kau tetap duduk disini menunggu pagi menghitung bintang sampai hangat mentari di timur melambaikan tangan padamu untuk bersyukur" Ku peluk tubuh tuanya kali ini dia tidak mengelak dia diam dengan tubuh tergoncang pelan menahan isak yang memilukan
Sejurus kemudian sepasang tangan tua menyentuh kepalaku " Aku ingin menguncir rambutku...,seperti saat kau kecil dulu" Ungkap Biung sambil menghujaniku dengan tatapan berlinangan air mata .Kau perempuan dewasa sekarang Nak..., Kau tak cantik tapi penuh pesona .Kau bukan mawar bukan melati kau menyebut dirimu Anggrek gunung  tapi kau tahu kekasihmu menjulukimu Bunga matahari di Puncak bukit...
"Aku tidak tahu itu Biung..."
" Dia berdiam di kesunyian  menjaga bunga matahari yang terus mekar ,Katakan padanya hari sudah pagi bukan saatnya sembunyi..."

" Biung ... Boleh aku datang saat ku lelah dalam keramaian....,"
"Pelajaranmu usai Nak, tugasmu sudah tunai ... saat kau terbangun gerbang akan terkunci kau takkan bisa kemari lagi...,Kami ada di hatimu...,bersyukurlah saat senang...,bersabarlah dan bersandarlah hanya dengan Alloh saja...,"
Seketika gerakan tangan biung terhenti Beliau menyelidik rajah basmalah di tangan kananku  lalu berucap pelan namun berwibawa "Ini bukan rajahan Babahmu...,"
Iya... biung..., suatu hari aku menemukan sebuah rumah kecil dalam perjalanan. Karena lelah aku duduk di bangku bambu di berandanya. Rumah itu sederhana tapi ditata dengan baik bersih dan wangi. Aku suka . Hingga aku sering sekali datang hanya sekedar duduk , sampai saatnya pemilik rumah mempersilahkan aku masuk ,dan aku tak menampik ku ikuti langkahnya ,dan aku kaget saat itu Biung , jika di lihat dari luar rumah itu biasa saja ,jangan kan untuk duduk melirik pun ogah..., Tapi begitu masuk aku baru tahu setiap sudut indah..., Rumah itu tak lebih megah dari rumah Babah yang tukang sapunya saja harus 10, tapi cukup untuk membuat orang yang berkunjung berdecak kagum memuji perabotan mahal di sana ,Dia menunjukan padaku semuanya dia menyuruhku memilih apa saja yang ingin di bawa pulang, tapi aku tak melakukannya...!"
" Kenapa ...Nak...???"
" Aku ingat Babah..., Saat aku kecil sebelum Babah mengajariku apapun Babah bilang Kalo aku tidak boleh memiliki sesuatu hanya untuk di simpan dan dipamerkan ,Aku merasa tidak membutuhkan itu semua , jikapun aku membutuhkan sesuatu Babah akan memberikan nya untuku ,Aku belajar cukup dengan apa yang ku punya.
" Aku senang kau masih mengingat dan melakukannya..., Lalu... lanjutkan ceritamu Babah ingin dengar....,"
" dia mengajakku masuk keruang Pribadinya dimana tak seorangpun di izinkan untuk menginjakkan kaki disana selain dirinya sendiri.bahkan kucing kesayangannya tak pernah tahu ruangan itu ,Saat aku di sana  Hujan deras Babah.kami menikmati hujan dari balik jendela tanpa pembicaraan apapun  sangat lama  dari dhuha sampai lepas senja. Baru saat hujan reda dia bicara...,
" Apakah kau suka Hujan..., seperti aku?" Tanya nya padaku saat itu
" Tidak ..., Aku tidak suka hujan. Tapi aku suka menanti pelangi yang muncul setelahnya "
" Kau tahu  hujan itu dulu adalah kesedihan tapi sejak kau hadir Hujan adalah kerinduan ,aku suka melihatmu...,dirimu... senyum mu... kau indah... ,"
" Sudah saatnya aku pulang..." Pamitku menutup pembicaraan ,aku bergegas pulang tapi mataku tertumpu pada sebuah sudut meja sederhana ada di sana,dia punya pena banyak sekali beraneka warna dan rupa ,aku mendekati meja itu lalu berucap pelan
"Aku ingin penamu...."
" Untuk apa itu tak berharga ,bawalah yang lain saja, jika kau tak sanggup membawanya aku akan mengantarkannya kerumahmu...
" Sesuatu yang tak bernilai  di mata banyak orang...,mungkin itulah yang paling disayangi..."
" Apakah kau punya kebiasaan meminta sesuatu yang paling disayangi..."
"Aku tak ingin apapun selain penamu... dan waktu..."
"Pilihlah yang kau mau...,"
" yang mana saja yang ikhlas kau berikan..."
" kau tahu saat kau meminta tak akan ada yang sanggup penolaknya, ini pena kesayanganku bawalah...!!!" Katanya sembari menamit tanganku merajahkan kaligrafi basmalah disana...,tak pernah terhapus musim Babah..."
" Rajahan ini adalah tanda bahwa kau miliknya..., tak ada yang boleh menggangumu...,dia siap jadi pagar hidup untukmu.... jelas Babah sembari tersenyum, tugas Babah selesai sayang...,Pulanglah dia sudah menunggumu di ruang tamu..." Babah menyerahkan Izasah ku...,"Selamat Jalan Murid ku yang manja doaku menaungimu"
"Terima kasih guruku yang sabar dan baik hati  aku akan membawamu dalam setiap doaku" Balasku sambil menyalaminya menahan tangis yang tiba -tiba menyerang mataku tanpa ampun lalu ku palingkan diri pada biung 
" Biung ingin tanya berapa banyak gurumu ,,, Nak???"
"Aku tidak tahu jumlahnya ,Biung. Aku terlalu bodoh untuk menghitungnya...,yang jelas banyak sekali , karena meski aku hanya mengetuk satu pintu untuk satu bidang ilmu ,aku adalah anak kecil bodoh yang selalu mau tahu banyak hal jadi guru ku banyak tapi yang menentukan kelulusanku hanya Babah..."
" kau tahu ...,Nak ...,Balasan terbaik untuk seorang Guru adalah gunakan ilmunya untuk hal yang baik  agar ilmu itu menjadi tabungan jariah yang menolongnya kelak saat tak ada lagi penolong..." 
" Aku akan merindukanmu Biung....Perempuan cantik yang sari wajahnya sesejuk embun pagi..."
"Aku sayang padamu  Putri kecilku yang nakal dan manja , jika tersenyum bunga ditaman  seperti mekar karena bahagia...,cukuplah Alloh sebagai penolongmu maka dunia akan menunduk padamu..."Pesan Biung saat aku menyalaminya aku hanya sanggup mengangguk  lalu melangkah mundur meninggalkan mereka dengan tatapan berkaca-kaca ,ku ucap salam pelan di pintu gerbang..., setelah itu gerbang terkunci sendiri semua berubah gelap tertutup malam yang pekat.
di hati yang diselimuti takut satu tangan memengangiku kuat,Ikut denganku akan ku antar kau pulang..." orang yang sama yang merajahkan Basmalah di lenganku... 
"Masuklah ... sudah saatnya aku turun gunung karena tugasmu selesai kau tunaikan..." katanya sebelum berlalu 
" aku hanya mengganguk dan tersenyum... sebelum menutup pintu Selesai

 



Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Tuesday, September 18, 2018

Cerita cinta Ilalang

 cicih surya     12:53 AM     cerita pendek     No comments   

Seikat Ilalang

Debu musim panas begitu ganas tak ada ampun menerpa wajah yang kian terpanggang ,Ricardo memacu kudanya  makin jauh ke utara, tak jelas apa tujuannya berburu atau sekedar patroli saja. kekacauan  terjadi di mana -mana, pemberontakan -demi pemberontakan membuat kepalanya pecah terbelah. Tak tahu entah karena sebab apa rakyat enggan penuhi kewajiban atas pajak .atau penguasa yang tak bisa mengayomi rakyatnya. Tak ada yang bisa menjawab pertayaan itu , karena semua merasa dirinya lah paling benar.

Ricardo semakin jauh menelusuri hutan  menyisir setiap penjuru , pepohonan makin lebat hingga dia merasakan angin sejuk  menerpa wajah yang kelelahan. Matahari siang harusnya membakar tapi mengapa dia merasa ini matahari pagi." perjalanan yang menyenangkan" Fikirnya dengan terlena sesaat beban di kepalanya sirna,

Ternyata disinilah obat paling mujarab berada ,Angin semilir dan hangat sang surya juga rimbun hijau yang menyejukan mata kebosanan dan bebannya sirna .
"Oh Tuhan betapa kecil semesta di banding kuasa-Mu ,yang meliputi langit bumi dan segala isi ,Kecil sekali aku..."Gumamnya pada diri sendiri.
Dengan segera dia turun dari punggung kuda. Bunga putih biru mengodanya untuk mendekat. Niat hati ingin sekali memetik tapi belum tangannya sampai sebuah suara  menghentikannya

" Jangan menyentuhnya dia milikku...!" Suara seorang perempuan membuatnya terhenyak dan diam. Tanpa kata Ricardo  mundur dua langkah menjauh ,dahi yang mengerjit menandakan dia masih mencerna larangan itu.
" Ini kebun bungaku...!" Perempuan bermata coklat gelap itu berusaha memberi penjelasan.
Ricardo mengnyipitkan matanya yang bulat besar.tapi dia diam dan mundur perlahan tak elok rasanya berdebat dengan seorang perempuan,dekil ,kumel pakaiannya lebih layak jadi lap di kandang kuda menemani si jose yang jago lari.

mundur beberapa langkah menatap punggung itu dari belakang kenapa dia merasa tak asing dengan gadis galak ini. seperti ada yang berbeda  entah apa teramat sulit mengungkapnya dengan kata , tapi rasa dan pemikirannya merasa kenal dan dekat itu yang membuat dia diam bertahan,telinganya mendengar gumaman kecil ,sederet nada ,dia juga kenal pernah mendengar tapi entah dimana siapa yang menyanyikan lagu itu sudah sangat lama, dia sudah lupa

" Kupikir kau sudah pergi..., kudamu sudah kenyang sudah berhenti makan...," Ungkap si pirang galak bernada mengusir
"Apa tanah yang ku injak juga kebunmu..Kufikir hanya orang bodoh yang tak bisa membedakan bunga liar dan bunga yang di jaga..."
" Maksudmu ...? kau menuduhku bicara bohong...??"
"Aku tidak mengatakan demikian aku hanya bicara tentang logika..." Ricardo berusaha membela diri
"Tidak semua yang kau lihat dapat kau uji dengan logika , bukankah tuhan kadang menyajikan skenario yang tidak logis untuk membuat kita berfikir..., menggali merenung sebelum kemudian bersyukur"
Ricardo terdiam.bathinya mulai memberikan penilaian perempuan yang bicara denganya saat ini. adalah seorang cendikia. Tapi mungkinkah...? bukankah sekolah hanya bisa dinikmati kalangan terbatas, Sekali lagi dia membagi pandang kesekeliling ada perempuan di tengah hutan, Dia memukul tangannya sendiri ,dan dia menjerit  lirih  kesakitan .,
Gadis pirang melirik cepat dengan waspada..., " Bangsawan bodoh..." Keluhnya kesal ,"Apa mungkin lelaki bodoh yang sangat polos masuk dunia politik yang  terlalu kejam..., penuh intrik berisi manusia-manusia munafik , dunia dimana kejujuran jadi sangat kerdil...,Kasihan...!!!"
" Aku hanya pemburu..., meski bukan pencari kayu...,Ayahku membuka kedai di pinggir kota..." Ricardo berdalih Dia berusaha menutup jati dirinya yang terbuka
" Aku tahu kau adalah Putra mahkota..., pemilik tahta yang sah jika baginda raja tak lagi sanggup memimpin...,"
Ricardo menatap gadis di hadapannya...," Kau kenal aku...,Kita pernah bertemu...??" Tanya Ricardo Polos ,Gadis itu tersenyum lucu seperti mendengar celotehan anak kecil yang bertanya pada ibunya tentang apa yang di lihat dan didengarnya. 
" Kau Putra mahkota, Yang mulya raja morgan dari Visby Castle di Barat , semua orang mengenalmu...,"
" Apakah baju penyamaranku tidak sempurna hingga sangat mudah kau tahu siapa aku...?" Tanya Ricardo semakin heran  , perjalanannya kali ini sudah sangat panjang kampung ,bukit gunung sungai setiap sudut kota di telanjangi berjumpa manusia berbagai rupa dan tabiat tapi tak ada yang mengenali jati dirinya , sebagai putra mahkota Visby .
" Aku Benedicta..., Aku tinggal di gubuk pinggir hutan ini. "
Sekilas dia melihat tanda yang ada di lengan kiri gadis itu...," Kau B Angel seorang penyanyi opera yang terkenal itu..., Ibuku teramat menyukaimu..., Bahkah saat sakit suaramu seperti sihir penyembuh untuknya "
" Apakah yang mulya Ratu sedang sakit...?"
" Sejak aku mulai bisa berfikir, Aku tahu Ibu menanggung beban yang sangat berat Kehilangan Almira Adalah pukulan telak baginya...,"
Almira...?" Siapa Dia...?" Kejar B angel 
" Aku tidak tahu siapa dia..., dia seperti sebuah cerita legenda yang ada dalam keluargaku , dulu aku sempat bertanya tentang kebenaran berita Almira Tapi Ayahku marah ,Ibuku menangis berhari -hari dan sakit ,sejak saat itu aku tidak pernah bertanya tentang Almira, aku hanya tahu kalo Almira  adalah kakakku yang meninggal karena menyakit aneh.
Cerita yang beredar di istana Almira kakakku yang gila. dia sering keraksukan roh leluhur. saat umurnya 5 tahun dia sering terjaga semalaman berbicara tentang apa saja yang tak masuk diakal  Ibu mengatakan kalo Almira putri yang sangat cerdas , tapi para penasehat istana mengatakan kalo Almira putri yang akan membawa petaka dia akan menjadi seorang pemberontak ,nasib tragis kemudian menimpa nya dia hilang . binatang buas memangsanya saat dia bermain di hutan sendirian. aku kadang berpikir apa mungkin seorang putri raja di biarkan ke hutan seorang diri..,Keragaman ceita itu membuatku bingung dan akhirnya aku sampai pada sebuah kesimpulan dan keputusan hanya waktu pengadilan paling baik untuk membuka tabir misteri tentang Almira. Pangeran Ricardo menyudahi ceritanya dengan hempasan nafas penuh beban. B Angel mempercepat langkahnya tanpa memberi tanggapan.,
" Berikan ini pada Yang mulya Ratu ,anggaplah tanda kasih seorang hamba pada ratunya" Kata B Angel sembari mengikat beberapa helai ilalang.
" Kenapa kau tidak berikan bunga unggu putih itu untuk Ibuku...?" Tanya Ricardo heran
" Kadang apa yang dianggap tidak bernilai di mata banyak orang , itulah yang istimewa .karena setiap orang punya nilai dan cara pandang yang berbeda.Orang yang Istimewa akan memberimu sesuatu yang istimewa dengan cara yang berbeda ".Setelah mengatakan hal itu B Angel lari secepat angin ,menghilang dalam sekejap.

Pangeran Ricardo menyusuri lorong demi lorong rumahnya setelah melepas lelah dari perburuan panjang ,dan memakai pakaian yang layak dia berniat menemui yang mulya ratu Ibunya.
Mengapa semakin hari dia melihat Ibunya semakin lemah dan tua .Mungkinkah dua minggu  bisa terlihat sekurus itu lalu apa kerja pelayan dan tabib kerajaan.
" Ceritakan padaku apa yang kau tahu..., sekarang...,Anakku???" Tanya sang Ibu lembut , Ricardo memengangi jemari Ibunya sembari duduk bersimpuh disisi perempuan tua itu
" Yang ku tahu tak berubah , Ibu adalah malaikat yang dikirim tuhan dengan wajah paling kurindukan..." Jawab pangeran Ricardo sembari mengecup kening tua ibunya lembut ,Pelayan mundur menjauh membiarkan seorang anak bercerita dengan ibunya ,
" Seseorang menitipkan ini untuk Ibu dan berdoa semoga Ibu cepat sembuh..." Pangeran Ricardo memberikan seikat ilalang kering  ,dengan tatapan mata penuh keraguan ,dia takut Ibunya merasa terhina ,Sebagai ratu beliau terbiasa dengan buket-buket indah yang dirancang khusus untuk yang mulya Ratu. Demi Ibu Ratu tertegun begitu lama menatap seikat Ilalang di tangan Putranya . tangannya bergetar , tubuhnya tiba -tiba merasa lunglai seperti tak bertulang, Ingatannya sampai di peristiwa belasan tahun silam ,saat Gadis kecil berlari riang memamerkan tiara yang dia buat sendiri dari rangkaian bunga liar..." Ini untuk Ibu...,seikat ilalang  yang aku ambil di tepi tebing Buk...!!!" Maaf Ibu aku memberikan apa yang aku suka bukan apa yang ibu suka ..., Mungkin suatu hari ibu akan merindukannya..." Ungkap si kecil riang sembari menatap mata ibunya
" Ibu tidak akan merindukannya karena setiap hari kau akan memberikannya pada Ibu..."
" Jika itu menyenangkan hatimu... , aku akan melakukannya Buk...,meski pun untuk mengambilnya  aku harus terjatuh Buk...,Ungkap gadis kecil itu sambil tertawa. dia menunjukan pantatnya yang kotor ,
" Dasar...,Gadis nakal...!!!, Apa yang akan dilakukan Ayahmu jika tahu calon ratu Visby seperti ini..."
" Ibu Ku mohon  Jangan katakan ini pada Ayah..., Aku tidak mau di kurung Buk...,"
" Katakan pada Ibu , kenapa kau beri Ibu ilalang...,"
" Ilalang adalah kelembutan ,dia seperti penurut yang mau di bawa angin kemanapun bertiup, tumbuh di tebing curam ,,, dia adalah gambar dari kesulitan hidup ibu.Akarnya begitu kuat menahan batu agar tak hanyut..., aku ingin seperti ilalang Buk...,yang menunjukan kelembutan dan menyimpan kekuatan yang tak takut pada badai ..., Celoteh Gadis kecil itu menabjubkan sekerika Ibu Ratu memeluk Putrinya dan menangis...," Jika suatu hari ada yang menggangapmu gadis gila , kau tidak gila kau hanya terlalu cerdas dan banyak orang tidak siap dengan kecerdasanmu..., Jangan sembunyikan bintangmu sayang...,Akan selalu ada Ibu yang siap menjadi perisai penjagamu...,"
" Aku tidak akan menuruti siapa pun Buk ...,  Hanya Ibu..." 
" Ayahmu..., Kau tak mau mendengarkannya...?"
" Tidak Ibu...,aku hanya akan mendengar kata-kata Ayah saat apa yang di katakannya adalah benar keinginannya , bukan keinginan dari Sir Dominiqu yang meminjam lidah Ayah..., Ayah memang Raja tapi dia terlalu bodoh untuk jadi seorang Raja . Hati Ayah terlalu lembut untuk bercampur dengan intrik - intrik kekuasaan..., haruskah Ayah menanggung beban itu selamanya ?"
" Bagaimana kau membedakan itu titah Ayah atau perpanjangan tangan Sir Dominiqu..." Kejar Ibunya dengan tatapan mata kagum tapi bercampur kehawatiran.
" Ukurannya Ada pada hatiku Ibu..., Aku kenal Ayahku..., Aku menyayanginya Itu yang membuat perasaanku Peka dan dapat membedakannya..." Ucapnya Almira tandas di matanya terlintas wajah Ayahnya kesedihan mengelayut pelan pada kepolosannya. Sampai saat sang ratu menuntunnya pulang ke istana  gadis itu hanya diam.

" Putriku...., dia masih hidup...,Oh terima kasih tuhan kau sudah  mengabulkan keinginanku..." Terdengar lirih ucap syukur sang Ratu , Pangeran Bernardo seperti tersengat lebah mendengar nya tapi dia tak ingin langsung bertanya dia takut melukai perasaan ibunya ..., Dia akan tunggu sampai Ibunya mau bicara.

" Dimana kau bertemu gadis ini , Nando...?"
" Di hutan Pinus di Utara.., Dia menjual bunga yang kebanyakan dia dapat dari hutan di kedai pinggiran kota ,Tapi aku kesal karena dia Gadis miskin yang sangat kikir, dia memberi Ibu Ilalang..., tidak memberi Ibu rangkaian bunga yang di buatnya , " Ungkap Pangeran menyampaikan kekesalan hatinya.
" apakah kau membeli Bunga yang dia jual...?"
Tidak Ibu aku sangat kesal hingga aku malas melakukannya , aku merasa Gadis dusun itu menghina Ibu  karena memberikan Ibuku seikat ilalang..."
" Dia pasti memanggilmu lelaki bodoh..., karena dia Gadis hutan yang cerdas...,"
" Iya Buk dia tertawa meledekku..., Dia juga bercerita tentang sebuah tempat..., seperti ruang bawah tanah di Istana kita...,Meskipun dia tidak mengatakan bahwa tempat itu ada di Istana Visby, tapi dia ceritakan dengan sangat detail apa saja yang ada di sana tulisan apa...,gambar apa...,  dan tadi sebelum kemari aku menyusuri ruang bawah tanah ,semua tulisan masih ada ,gambar itu nyata. Bu...,ceritakan Padaku apa yang Ibu pikirkan..., Apakah Ibu ingin Aku mencarinya untuk berjumpa dengan Ibu...,
" Kembalilah berpetualang pastikan dia Baik-Baik saja..., sementara itu ibu akan membujuk Ayahmu untuk membawanya ke istana..."

Gadis itu Kakak mu Almira..., Mintalah dia menjadi penasehatmu saat kau naik tahta maka dengan begitu ibu yakin Visby akan sampai pada puncak ke jayaannya..."
" Ibu yakin...,Bahwa dia Almira...?" tanya sang pangeran mendesak dia berusaha menyakinkan dirinya dengan mendengar kepastian Ibunya .
" Hanya Ibu dan Almira yang punya tahu cerita tentang lima helai batang ilalang..., Kau tahu Nak ... saat jarak dan waktu memisahkan..., sebuah kenangan yang di buat bersama yang mampu menyatukan perasaan.
"Apa dia akan  bersedia Buk...???",
" Dia akan bersedia menjadi penasehatmu...,Karena cintanya pada visby  kerajaannya , karena sayangnya pada kau dan Ayahmu ,juga karena janjinya pada Ibu..., Meski Ibu tak yakin dia mau tinggal bersama kita karena rasa sakit yang dia pernah rasakan...,terusir dari rumahnya sendiri ,di asingkan keluarga untuk sebuah kesalahan yang dia sendiri tak tahu..."
" Baik Ibu..., Sekalipun dia tidak di Istana Aku akan pastikan kalo dia baik -baik saja . Aku akan membawanya kemari bukan sebagai hamba pada Ratunya...,tapi karena sudah saatnya pengembara kembali kerumahnya..." Janji pangeran Ricardo di sambut senyum cerah Sang Ratu....The end

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Followers

Translate

Popular Posts

  • Cerbung:bismilah,Pelarian terbaik bag II
    Di cerita yang lalu kita berkenalan dengan seorang anak muda unik yang bekerja sebagai pemulung... dan sekarang kita akan simak kelanjutany...
  • Cerita Tragis Perempuan
    Dia tak tampan Bukan hartawan Dia hanya sopan Dan itu yang istimewa Aku tertawan oleh senyuman Tersesat tak bisa pulang Rahasia Bint...
  • Puisi Nasehat pernikahan dari Ayah untuk Putrinya
    Menikah adalah sesuatu yang sakral dan mengharukan bukan hanya untuk anak tapi juga untuk orang tua. Biasanya mereka menitipkan pesan yang ...
  • Cerpen terbaru kunci sukses Mama
    Matahari ku Rara masih bersembunyi di balik selimutnya, padahal matahari mengelitiki matanya yang terasa perih saat harus di buka, sinar...
  • Pesan cinta mama
    Perintah tanpa alasan Argumen Atau sebuah penjelasan Yang dia tahu Hanya harus Tak punya frasa Tepat Agar kau percaya Cerita ind...
  • Cerita Tentang Seorang Nenek
    Nasehatnya... Peluknya... Bau tubuhnya Manjanya tak ada yang lebih indah Dari senyum tanpa gigi Milik Embah Masuk yuk kita bernostalgia t...
  • cerbung: Perjalanan cinta Hijabers Nikendy V
    Memiliki aku itu mudah, yang sulit adalah mendapatkan hatiku,,,, masuk kedalam yukk cus ah...! Akhir sebuah pencarian Angin pagi yang me...
  • Cerita Manis sahabat
    Dear Mbak Devi Mbak Devi 10 tahun kita ga ketemu, Entah dimana keberadaanmu saat ini, di Jakarta atau pulang ke Padang. Kabar yang ku...
  • Pejantan Pilihan
    Sang pejantan Sore sudah lewat senja belum datang, tapi gelap gulita mungkin akan hujan, angin dari utara bertiup amat kencang, derit ran...
  • Novelet Remaja: Hijab Jingga Kinar bagian X
          Perjumpaan Kinar dengan ayahnya akhirnya menjadi nyata pertemuan yang merubah warna dunia Kinar. Lanjut yuk, masuk dan duduk manis jan...

Recent Posts

Categories

  • cerbung
  • cerita pendek
  • Kisah Inspiratif
  • Motivasi
  • Novelet
  • puisi cinta
  • ucapan di hari special

Unordered List

Pages

  • Beranda

Text Widget

Blog Archive

  • ▼  2019 (12)
    • ▼  October (2)
      • Kisah Inspiratif, Cerita SuksesTallia,Memulai deng...
      • Kisah Inspiratif, Cerita Sukses Anak Rantau
    • ►  January (10)
  • ►  2018 (30)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (7)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (7)
  • ►  2017 (68)
    • ►  December (2)
    • ►  November (5)
    • ►  October (7)
    • ►  September (3)
    • ►  August (8)
    • ►  July (7)
    • ►  June (7)
    • ►  May (5)
    • ►  April (8)
    • ►  March (16)

Blog Archive

  • ▼  2019 (12)
    • ▼  October (2)
      • Kisah Inspiratif, Cerita SuksesTallia,Memulai deng...
      • Kisah Inspiratif, Cerita Sukses Anak Rantau
    • ►  January (10)
  • ►  2018 (30)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (7)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (7)
  • ►  2017 (68)
    • ►  December (2)
    • ►  November (5)
    • ►  October (7)
    • ►  September (3)
    • ►  August (8)
    • ►  July (7)
    • ►  June (7)
    • ►  May (5)
    • ►  April (8)
    • ►  March (16)
Powered by Blogger.

Find Us On Facebook

Labels

  • cerbung
  • cerita pendek
  • Kisah Inspiratif
  • Motivasi
  • Novelet
  • puisi cinta
  • ucapan di hari special

Flickr Images

Labels

  • cerbung
  • cerita pendek
  • Kisah Inspiratif
  • Motivasi
  • Novelet
  • puisi cinta
  • ucapan di hari special

Download

Sample Text

Copyright © Rumah Kata | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Gooyaabi Templates