Rumah Kata

tempatnya cerita indah dan puisi romantis

  • Home
  • Business
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Parent Category
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Featured
  • Health
    • Childcare
    • Doctors
  • Home
  • Business
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Downloads
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Parent Category
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Featured
  • Health
    • Childcare
    • Doctors
  • Uncategorized

Monday, January 14, 2019

Novelet Remaja: Hijab Jingga Kinar, Bagian lV

 cicih surya     6:16 AM     Novelet     No comments   

Kinar berhasil menerbitkan kembali semangat Ibunya, cinta memang punya kekuatan yang sangat luar biasa untuk menjadi sumber kekuatan terbesar.untuk melakukan hal yang mustahil sekalipun.
Cinta akan selalu jadi cahaya yang mampu menerangi sisi paling gelap dari palung hati terdalam. lanjut lagi yuk bapernya ..., selamat meleleh !

Kau Cantik Hari Ini

Matahari pagi bersinar cerah menyemangati insan untuk segera bangun dari tempat tidur,"Bertebaran lah di muka bumi" katanya, tapi sayang kita teramat dungu untuk mengerti tentang pesan alam untuk penghuni bumi yang katanya berakal budi.

Kinar memulai hari dengan menyiapkan makan pagi, bubur ayam dengan kuah sop bening yang pedasnya berasal dari lada hitam menggoda perutnya yang sejak semalam keroncongan. Ibu duduk manis di bangku tua, melihat putrinya yang sibuk merajang seledri. Dia tersenyum tersenyum sambil matanya tak pernah melepas kan pandangan dari sosok Kinar. Kaos panjang merah marun, dan celana pendek sangat manis. dihatinya mengalun bait -bait puisi, menyanjung putrinya sendiri

  kau jadi Inspirasiku
semangat hidup
dikala aku sedih
dikala aku senang
di saat sendiri dan kesepian
kau bintang di hatiku
(Lirik by BIP.Bintang hatiku)
  
 "Ki, tak mampu ibu bayangkan jika ibu tidak memilikimu" ujarnya seperti pada dirinya sendiri 
   "Wah Ibu gombal, mau jalan-jalan, Bu. Setelah sarapan?"tawar Kinar
   " Tidak, Ibu ingin di rumah  mencari kutu di kepalamu"
   "Wah, Ibu. tak ada kutu yang betah di kepalaku, adanya cuma belalang, nanti kita goreng, Bu. Lumayan  buat makan siang. Hemat duit kita, ya."
   " Kamu, di kepalamu penuh dengan semut hitam saking manisnya anak Ibu...."
   "Aku manis karena aku punya ibu terbaik."balas Kinar sambil tersenyum cerah, disodorkannya bubur yang masih mengepulkan asap tipis. mereka sarapan pagi bersama, hal yang cukup langka karena Kinar sibuk bekerja untuk mencari sesuap nasi, guna menyambung hidup mereka.

Seusai sarapan mereka menghabiskan waktu di teras rumah. Gang kecil yang tidak terlalu ramai  membuat mereka merasa damai. Tak terlalu bising, ketenangan seperti itu yang diperlukan Bu Risma untuk  mengembalikan kebugaran tubuhnya.

Virus memang tak akan hengkang dari tubuhnya, meskipun obat diminum dengan teratur tapi setidaknya perkembangannya dapat di tekan dan suasana yang tenang adalah pendukung utama agar dirinya dapat beristirahat cukup.

Tangan tuanya yang kurus terus menari, menyulam, membubuhkan berbagai tusuk hias di taplak meja. pesanan dari seorang pelanggan untuk menghias butiknya, orangnya rewel, maunya on time,tapi soal harga tidak masalah. nominal yang disebut Bu Risma, di iyakan tanpa banyak kata.

Ini adalah orderan pertamanya dan Bu Risma ingin memberikan yang terbaik yang dia bisa, dia cukup paham karakter orang kaya sekelas Bu Muthia. kalau tidak pelit setengah mati, ya royalnya  luar biasa, jika puas, jalan rizkinya akan mengalir deras. tak mustahil sulamannya akan jadi salah satu yang di jual atau dia akan dapat orderan menyulam pakaian mahal.

Dengan begitu, beban Kinar tidak terlalu berat.Yah, minimal dia bisa memenuhi kebutuhan kamar mandi. bukan nominal tapi kemauan. Agar dia tak harus menjadi beban.

   "Ibu, Ki pergi dengan Arda, boleh ya!" pinta Kinar seusai menyiapkan makan siang.
   "Boleh, tapi tidak pulang malam"
   "Iya,"
   " Memang mau kemana?"
   " Pembukaan cabang baru, Bu. Jadi Arda dan teamnya di daulat untuk mengurus cabang baru. dan jam 3 itu peresmiannya."
   "Oh, pakailah pakaian yang pantas tapi harus tetap sopan" pesan sang Ibu. Kinar terdiam itu sebenarnya yang dia pikirkan dari tadi,"baju." Ibu Risma menatap anaknya sejenak,"Ada apa, Ki. Katakan?"
   "Ki nggak punya dress, Bu" jawab kinar lesu"Ki, boleh beli baju ya, Bu?
   "Tentu, tapi apa waktunya cukup ? ini sudah jam satu, beli baju buru-buru nggak puas milih, nanti kamu nyesel"
   "trus, gimana?" Kinar menatap ibunya putus asa. Ibu Risma berpikir sejenak lalu tersenyum.
   "Tunggu sebentar!" katanya sambil memasuki rumah setengah jam kemudian, dia memanggil putrinya dengan suara senang.

Kinar kaget pas masuk ke kamar, ranjang penuh dengan baju, di lantai juga berserakan sepertinya habis ada puting beliung.
   "Ini mungkin pas untukmu, cobalah!" kata Bu  Risma sembari menyodorkan dress hitam selutut pada Kinar, sementara kinar masih melongo dia tidak percaya ada harta karun seindah itu di lemari tua ibunya.
   "Punya siapa, Bu?" tanya Kinar terdengar bodoh, Ibu Risma tertawa terkekeh
   " Milik ibu saat ibu seumur kamu.
   "Ko bisa update modelnya, Bu?"
   "Karena mode itu berputar, Ki, model pakaian yang sekarang dianggap paling baru, itu sesunggunya model yang juga pernah ada. sepuluh ,dua puluh, atau tiga puluh tahun yang lalu. Dan perbedaannya paling penambahan sedikit aksen.sementara, cutting dasarnya pasti sama."jelas Bu Risma panjang lebar sementara mata Kinar membagi pandang antara gaun di tangannya dengan  wajah tua ibunya. jika sekarang dia harus membelinya. Gajinya sebulan takkan cukup, mungkin dia harus menabung setengah tahun agar bisa membeli baju ini dan bisa makan.
   "Pakailah Ibu mau lihat!" perintah ibunya halus. Kinar menurut tanpa kata. Dipakainya baju itu didepan ibunya. Kinar tersenyum manis di depan cermin, menatap bayangannya sendiri tanpa berkedip, merasa cantik adalah kenikmatan tersendiri. Saat ini Kinar sedang menikmati perasaan tersebut.
   "Pas sekali, cuma terlihat kosong bukalah dulu, biar ibu tambah sedikit sulaman  agar terlihat kekinian!"Ibu Risma kembali meminta baju masa mudanya. Kinar menurut, matanya kembali tak berkedip menyaksikan ketelatenan ibunya membentuk bunga-bunga kecil sebagai hiasan gaun yang akan dipakainya.
   "Ibu hebat, nanti ajari aku nyulam, ya Bu. sentuhannya hanya sedikit tapi dress ini jadi terlihat elegan"puji Kinar bahagia.
   "Tambahan aksesori yang pas membuat apa yang kita kenakan menjadi berkelas, Nak. Mandilah sana agar tidak terlambat"
   "Ok bos" Kinar berlari ke kamar mandi, pertanyaan baru kembali muncul. Siapa Ibu sebenarnya mengapa dia seperti menutup rapat.tentang hal itu.
***
 Acara gunting pita selesai. Arda mengajak gadis cantiknya untuk singgah sejenak merayakan kebahagiannya dengan makan malam.
   "Kau cantik malam ini."puji Arda sambil menarik kursi untuk Kinar. Perempuanya hanya tersenyum."Sepertinya aku harus bertemu ibu untuk melamarmu, daripada aku ketakutan terus setiap malam"
   "Takut kenapa?"
   "Takut kamu sadar kalau kamu cantik, kemudian meninggalkan aku."
   " Aku yang takut kehilanganmu, Arda"
   "Kenapa?"
   "Karena aku tak sepadan denganmu, aku hanya perempuan hina yang tak punya ayah, pendidikanku rendah. ibuku pengidap HIV. Virus yang dianggap azab, anak dari dosa.. Hingga kami harus berjuang  melawan cibiran dan  tatapan jijik masarakat sekitar." Kinar berbicara dengan raut wajah datar tatapannya terus tertuju pada mata Arda seperti ingin melihat kejujurannya.

Arda diam helaan napasnya berat, berkali dia mencoba untuk menegakan duduknya.
    "Entahlah Kinar, aku juga tak tahu harus berkata apa? yang aku mengerti, saat aku mencoba meninggalkanmu. hatiku rasanya sakit sekali, kala aku mencoba mendekati gadis lain, dimataku meraka buruk sekali, aku tetap merindukan matamu, kecerewetanmu. Aku sayang padamu, Kinar"
    "Bagaimana jika aku ternyata positip HIV?"
     "Tidak apa, kita jalani, aku akan jadi alarm hidup yaang mengingatkanmu minum obat seumur hidup."
   "Kau Gila, Arda"
   "Mungkin, tapi setahuku, HIV tidak menular begitu saja, berkembangan virusnya bisa ditekan asal kita displin minum obat, dengan begitu anak yang lahir dari ibu yang HIV bisa negatip"
   "Kau tahu sebanyak itu?
   "Aku tanya dokter, aku bergabung dengan komunitas OHIDA, semua aku lakukan karena kamu, Kinar."
   "Kau sudah periksa?"
   "Sudah, Dokter maya  selalu menelponku untuk tes HIV berkala setiap 3 bulan. Karena  aku termasuk berisiko, karena hidup bersama OHIDA. Hasilnya negatip. Ibu selalu memintaku menjauh saat dia terluka"
   "Kinar, apapun kamu. baik dan buruk dirimu, aku tidak akan meninggalkanmu. bukan untukmu, tapi untukku karena aku tak bisa hidup tanpamu.Kau adalah bintang hatiku"
   "Aku sayang kamu, Arda." Balas Kinar sembari tersenyum. Alunan Musik terdengar begitu indah bagi sepasang anak manusia yang sedang di mabuk cinta, Lagu milik BIP  berjudul bintang hatiku didendangkan apik diiringi gitar akutik .Bersambung



  






Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Saturday, January 12, 2019

Novelet Remaja: Hijab Jingga Kinar Bagian lll

 cicih surya     5:54 AM     Novelet     No comments   

Diperjalanan kemarin Kinar berbaikan dengan Arda kekasihnya, bagaimana perjalanan selanjutnya? lanjutin baca yuk, Silahkan masuk

Mencari Arah Mentari

Seorang perempuan setengah baya berbaring sendiri di ranjangnya.Wajahnya semakin pucat, rambutnya yang memutih berminyak dan berhias ketombe besar-besar tubuhnya menggigil hebat, bibirnya membiru.
“Ki..., Cepat pulang sayang ibu sakit” rintihnya lemah, tangannya menggapai meja kecil di sudut kamar, tapi gelas diletakan di sisi seberang meja. Perempuan itu berusaha keras mengambil gelasnya. Hingga tak sadar tubuhnya sudah ada di bibir ranjang, Gubrak! sejurus kemudian dia mengerang kesakitan badannya yang renta dan lemah membentur lantai. Setelah itu dia tak tahu lagi apa yang terjadi.

Lorong rumah sakit terasa gelap dan sepi, Kinar duduk seorang diri di bangku panjang bar cat Abu. Matanya yang agak sipit menatap kosong ke depan membayangkan hal yang mengerikan, seandainya hal yang sangat buruk terjadi ibunya tertidur dan lupa menghirup udara pagi.

Betapa mengerikan membayangkan dia kehilangan ibunya. Tangan siapa yang harus di genggam saat dia ragu dan membutuhkan kekuatan menghadapi kehidupan “Tidak, kumohon Tuhan jangan ambil Ibu sekarang” jeritnya tanpa sadar,air mata mengalir deras. Tubuhnya berguncang. Hari ini menghadapi situasi sepahit ini. Ternyata hanya Tuhan yang mampu menenangkannya. Gadis itu mulai mengatur napas menyatukan diri dengan kesunyian malam yang beranjak pagi. Terhayut dalam doa-doa panjang mencoba merayu Sang Maha untuk kesembuhan ibunya. Tanpa sadar dia tertidur duduk bersandar tembok dingin rumah sakit

Dia berjalan sendiri menyusururi jalan kecil terjal berbatu, di kiri dan kanan ditumbuhi pepohonan yang tidak terlalu tinggi. Batu yang terhampar juga ditumbuhi lumut tanda jarang dilalui. Matahari sepertinya malas membagi sinarnya ke sini.

“Bu...,Ibu..., Ki takut Ibu...,”matanya melihat sekeliling, dia menggidik ngeri. Lalu menunduk dan berjalan cepat sembari mengepalkan tangan mengumpulkan kekuatan dan keberanian. Tekatnya bulat dia harus menemukan arah timur. mencari sinar mentari dari sanalah dia bisa menemukan arah pulang.

Langkahnya diteruskan meski lelah. Kakinya terasa patah entah kenapa, dia mematahkan batang pohon untuk memapah dan menguatkan tubuhnya. Sesekali terhenti mengambil napas panjang dan mengumpulkan sisa tenaga. Batang pohon yang dijadikan tongkat menyandung batu hingga dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

Tangisnya pecah putus asa mendera, sangat lelah. Tak ingin berdiri rasanya. Biarlah hari ini aku terhenti,atau jika saat ini aku mati biarlah, daripada hidup terus menanggung beban sendirian. Tapi saat matanya terpejam dia melihat senyum ibunya yang menyejukan. Diangkat kepalanya ditatap langit sejenak, berusaha bangkit meski sulit sekali. Setelah berdiri kembali tarikan napas panjang memberi aba-aba kalau dia sudah siap melangkah. Payah sekali kakinya diseret pelan, sampai akhirnya dia mampu berjalan cepat dan berlari
.
Dilihatnya matahari, “Alhamdulilah” bisiknya mengucap syukur tapi belum dia meninggalkan hutan bahunya disentuh lembut.

“Masa kritis Ibu Risma sudah lewat. Sekarang ada di ruang isolasi kamar melati.”Suster itu berkata dengan lembut.

“Kenapa saya tidak dibangunkan, Sus?”

“Dokter Maya melarang saya,tadi Mbak Kiran tertidur lelap” suster berbaju hijau muda itu menjawab ramah lalu pergi. Selepas itu Kinar bergegas mencari ibunya di ruang perawatan. Impus dan oksigen terpasang. Kinar menarik napas lega melihat senyum tersungging di bibir Ibu. Dihampirinya setengah berlari ditatapnya tanpa kata, setiap kerutan di wajah perempuan tua itu menyimpan cerita rahasia yang belum mampu tersibak seluruhnya.

Namun Kinar tak ingin bertanya, mengapa dia tak punya ayah seperti teman-temannya. Sudah menjadi keputusanya bahwa apapun yang terjadi di masa lalu. Tak akan melukai dan mengubah penilaiannya tentang Ibu. Begitu pun dengan cibiran masyarakat atas sakitnya, dia tak ingin mendengar. yang dia tahu ibu adalah perempuan yang mengajarinya tentang kekuatan yang berbalut kelembutan dan cinta kasih
.
“Maap, Ki. Ibu yang salah Ibu malas minum obat salama kamu lembur Ibu membuang obatnya di bawah ranjang.” ujar ibunya terbata, seperti anak kecil yang melakukan pengakuan dosa pada ibunya. Kinar membelalakan matanya yang sebenarnya tak bisa melotot ”Jangan marah,Ki. Ibu kan sudah minta maap, Nak” Risma mengiba sembari menggengam jemari putrinya. Kinar membuang pandangannya kesalnya tak mampu disembunyikan. Kemudian duduk lesu di kursi kecil di sisi ranjang ibunya dia diam tanpa sepatah kata.

Sepekan Risma harus menginap di rumah sakit, selama itu juga Kinar setia bersamanya meski bicaranya masih seperlunya karena rasa kesalnya belum hilang.

Apalagi jika dia ingat percakapannya dengan Dokter Maya, kesedihan menderanya semakin dalam. Dan dia memilih diam dengan ibunya. Tak ingin mengatakan apapun, Kinar takut saat dia bicara dia akan meneteskan airmata di hadapan sang Ibu. sampai detik ini seberat apapun beban yang ditanggungnya dia tak ingin ibu melihatnya menangis.

“Virus berkembang pesat sekarang organ ginjalnya bermasalah, sepertinya Ibu Risma berhenti minum obat untuk waktu yang agak lama sehingga kekebalan tubuhnya menurun dan membahayakan beberapa organ dalamnya.”

“Saya yang salah...,Pulang kerja langsung tidur. Saya melihat obat ibu sudah berkurang saya pikir ya diminum, Dok”

“ Bersabarlah, jika Ibu Risma kembali disiplin minum obat kondisinya akan membaik. Jadi lebih teliti lagi, Ibu Risma beruntung memiliki putri sepertimu, Kinar.”Ujaran Dokter Maya Membuat Kinar kembali optimis.

“Terimakasih, Dokter. Dokter sudah sangat baik pada saya dan Ibu saya”

“Kinar, Saya hanya melakukan tugas saya sebagai dokter, dulu dokter senior saya pernah berpesan di hari terakhir saya menjadi coas, bahwa obat semua penyakit sesungguhnya adalah keinginan dari diri sendiri untuk sembuh. Jadi selain saya menuliskan resep saya juga sebisa mungkin menghibur dan membangkitkansemangat dari pasien-pasien saya”

“Jika ada Nominasi dokter terbaik, saya akan menjadi pendukung utama yang merekomentasikan Dokter Maya”

“Kamu itu ada-ada saja, Kinar” balas Dokter Maya sambil tertawa lepas sebelum kemudian meninggalkan Kinar dan berbelok ke ruangan nya.

Di ranjang yang sebenarnya sempit dua orang perempuan beda generasi berbaring bersama.
“Bu, Janji ya,jangan buat Ki takut lagi.”Pinta si gadis lirih, ibunya mengerutkan kening belum dapat menebak kemana arah pembicaraan putrinya.

“Ibu tidak tahu kalau ada sesuatu yang kau takuti, Ki” balas sang ibu sembari menatap lekat wajah anak semata wayangnya.

“Ki takut, Bu. Jika suatu hari, Ki pulang kerja mendapati Ibu tak lagi bernapas. Ki tidak berani hidup seorang diri tanpa Ibu”

“Kamu tidak akan sendirian jika Ibu pergi. Pejamkan matamu, selama udara masih bisa kau hirup selama itu pula, Alloh menjagamu. Akan selalu ada cinta jika kita mau menebarkannya. Akan selalu ada saudara baru, teman-teman baru yang menolongmu selama kamu membuka mata hatimu untuk melihat cahaya kebaikan dari mereka” balas ibunya sambil mencium kening putrinya lembut.”Ki Arda tahu ibu sakit?”

“Tentu, Bu. Dia datang tiga kali kerumah sakit menemani aku, tapi entah kebetulan atau gimana ibu selalu sedang tidur. Dia yang menebus obat di apotik saat persediaan di dalam habis, Bu. Sepertinya dia lebih sayang sama Ibu dari pada aku”

“Masa?”

“Iya, setiap telp yang ditanya kabar ibu, aku sedang apa dia tidak peduli, Bu”

“Ibu punya fans baru...”

“Ibu,janji Ibu akan sembuh. Ibu mau merasakan nikmatnya menggendong cucu.” Kata ibu
 bersemangat, Kinar memeluk ibunya dengan sorot mata berbinar. Bahagia! Bersambung

Terima kasih sudah datang, See u dear







Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Thursday, January 10, 2019

Novelet Remaja :Hijab Jingga Kinar bagian II

 cicih surya     7:39 AM     Novelet     No comments   

Di episode yang lalu  Kinar marah marah menghujat siapa saja yang membuatnya terluka. Dunia terasa tak adil padanya. tapi dia harus kuat untuk ibunya. penasaran dengan kisah selanjutnya silahkan masuk, ngantri ya,,,
Sahabat Saat Senja

Words have left us all alone
And somethings come between us
To turn the fire cold
Toughts than chase you in the night
Silently the storn
The life from in the eyes
And I remain alone, no matter who
May try and take your place
Oh no
(Lirik dari I’ll Remember You
Artis Atlantic Starr)


 KAMAR bernuasa biru dengan desain minimalis menyimpan semua kegelisahan yang dirasakan lelaki muda yang senang memakai celana batik. Hari ini semua semakin kacau, apa yang dilakukan rasanya salah. Angin yang berhempus lembut saja tidak mampu menyejukan suasana hatinya yang gulana.
Arda lelaki berperawakan sedang, rambut yang dicat cokelat gelap. Melempar kasar handphone miliknya di atas kasur,”Hanya dibaca” gerutunya amat kesal, rambutnya diremas dan menjerit tertahan. Otaknya masih waras semarah apa pun dia tak harus membuat geger seisi rumah dengan menjerit- jerit seperti manusia kesetanan.

Akhirnya dia hanya menghembuskan napasnya panjang dan berat.  Memejamkan mata mencoba menenangkan hati meskipun sulit sekali. “Sampai kapan kamu akan diam, Sayang?” Katanya lirih diantara kesedihan dan kerinduan yang  dalam. Keputusan akhirnya dia terduduk lesu di sudut ranjang, menatap senyum manis kekasihnya,dari foto hitam putih yang bertengger angkuh di meja kerja.

Kembali buntu, desainnya kacau,bayangan wajah Kiran yang menunduk sedih saat berlalu, sore itu terus mengganggunya selalu menari menghiasi setiap sudut, ke mana pun matanya memandang.

    “Bagaimana aku tak marah, aku melihatmu menyentuh pipinya kalian begitu dekat.” Ungkap Kiran sangat marah dia berusaha mengatur napas tapi tetap saja amarahnya lebih besar. Api di dadanya tak padam begitu saja.
   “Aku sudah katakan padamu dia sudah ku anggap seperti adikku, Sophia tak punya siapapun di kota ini selain aku, dia sedang sedih aku berusaha menghiburnya, itu saja!”
  “Kau bijak sekali...,berusaha membuat gadis lain tersenyum dengan menyakitiku”
  “Cemburu mu berlebihan. Itu persoalannya”
 “Mungkin kau benar. Aku berlebihan karena cemburu pada orang yang ku sayangi dan adik perempuannya, Aku perempuan Beruang madu, Aku tahu sophia mencintaimu bukan sebagai adik memandang kakak lelakinya , tapi tatapan perempuan pada kekasihnya”
 “Kau bahas itu lagi, Please berhentilah bermain dengan perasaanmu sendiri!”
 “Aku sayang kamu.”
 “Aku tak tahu Arda apakah aku harus percaya perasaanku atau membuka mata dan melihat kenyataan, Kau lebih sering menghabiskan waktumu dengan Sophia, ketika bersamaku kau masih sempat terus berbalas chat dengannya. Tertawa dengan lelucon Sophia yang sebenarnya basi” Air mata Kiran mulai jatuh semakin lama, semakin deras tak ada lagi kata yang di ucapnya. Dia mengelak saat Arda berusaha memeluknya dan memilih pergi tanpa pamit, Lelaki berkaos Army itu hanya mampu menatap punggung Kiran.

Hampir sepuluh hari sejak itu Kiran tak pernah membalas chat yang dia kirim, hanya di baca tanpa di balas. Batu jika sudah marah memang begitu, diam saja. Di cari ke tempat kerja tak ada, selalu saja ada alasan untuk menghindar, dinas luar lah , tugas lapanglah di rumah nya juga tak mau menemui.

“Ki, aku  sudah berusaha jaga jarak dengan sophia, Maafkan aku ya” Arda kembali mengirim chat, dan dia harus kembali kecewa karena sampai keesokan harinya pesannya masih dianggurin sama Kiran. Arda menghela napas berat berkali-kali, makanan di piringnya sekoyong-konyong menjadi menjijikan. Perutnya kenyang karena kesal.

 “Elu itu Profesional dong, deadline nih. Gua udah kena semprot Pak Satrio” Rama bicara dengan nada keras. “Gua udah kasih elu tenggang waktu, Sob. Pak Satrio Kan nyarinya Gua bukan elu. elu pikirin juga dong reputasi gua.”
 “Iya,Ram so sorry ok, Gua beresin sebelum jam pulang.”
 “Jam pulang,” rungutnya “Jam 02 di Meja gua.” balas Rama tak ramah.
 “Ok...,  jam satu ada di meja elu, Bos” kata Arda tertantang.
 “Gua suka gaya lo! Itulah temen gua, on fire, setahu gua desain cetek kayak gini elu bisa beresin setengah jam,ini satu minggu belum kelar.” goda Rama berusaha membangkitkan api semangat sahabatnya.
“Berisik luh...!”
 “Kinar, Kau sukses membuat temanku gila” seloroh Rama sambil berlalu meninggalkan Arda yang sibuk memainkan mousenya. dan hanya mampu menyunggingkan senyum hambar” Kinar” bisiknya lembut pada dirinya sendiri.

Kemudian tangannya menari lincah menghasilkan desain yang diminta. Sesekali  dia menghentikan gerakan tangan dan menatap hasil kerjanya. Bergerak lagi di tatap lagi sampai akhirnya  dia tersenyum. Setelah 3 kali melihat hasil print out. Arda tersenyum puas kemudian melihat handfhone, "20’. “New recort!”
 “Wow...,Elu jenius, Sob!”komentar Rama antusias, melihat hasil kerja sahabat karibnya
 “Udah sana setorin, posisi lu bahaya kalau telat, Pak Satrio itu klien potensial buat kita, rugi gede kita kalau dia minggat. Susah gua nyicil rumah...”
 “Ok Bro doain lolos acc”
 “Yups, so pasti!”

***
Tanpa Kinar hidupnya tak lengkap seperti sepasang penari yang kehilangan patner saat kompetisi penting. Bayang-bayang Kinar menghias langit-langit kamar membuatnya tak mampu memejamkan mata meski hari hampir pagi.

“I ll’ remember you. Kinar” dikirimnya chat jam 02 pagi
 “Aku sudah memaapkan mu tapi masih malas bicara denganmu” balas Kinar beberapa menit ber selang. Senyum Arda mengembang sempurna, beban berat yang menindih jiwanya sirna seketika. Bayangan awan hitam berganti pelangi di setiap sisi.
 “Mimpi indah ,Sayang”
 “Tidurlah Masih malam, besok kamu kerja”
 Arda membalas dengan emoticon cium. Tapi balasannya hanya kesunyian. Rasa kantuk kemudian bertamu menyerang matanya begitu kuat, hingga HP yang dipengangnya jatuh di atas kasur.

Hari ini aku pahami
Rindu Itu jahat
Tak sanggup aku tidur
Aku tak kuat
Kinar 

Bukan Sophia yang cantik jelita yang membuatnya bahagia, Kehilangan perhatian manis Sophia tidak  membuatnya acak-acakan. Yang dirindukannya adalah kemanjaan Kinar, galaknya  aduh beneran nggak kuat deh, benar ternyata apa yang di katakan Rama sahabatnya. Kinar punya daya tarik yang berbeda  bukan karena dia cantik, tapi karena kepribadiannya yang menarik. Mampu membuat siapapun yang mengenalnya jatuh cinta.

Ah Kinar seandainya kamu mengerti kehilangan perhatian kamu itu bencana terbesar dalam hidupku. Rasa rindu membuatku tak mampu menjauh dari kamu, kau sudah menggenggam hatiku.
Aku tak membutuhkan seseorang yang lebih cantik atau lebih cerdas, kau sudah cukup Kinar. Sungguh kau cukup untukku, Kamu saja sayang.

Saat usia semakin menua kala cinta birahi sudah tak ada, biarkan aku menggenggam tanganmu sebagai dua orang sahabat yang saling berbagi, mengerti dan terus menghujanimu dengan kasih sayang yang tak pernah habis meski musim berganti.

Kinar, bukan si cantik atau si upik abu dia perempuan biasa yang membuat dunianya berubah.
Tak ada ambisi untuk menaklukan sang primadona lagi, tatapan mata Kinar yang teduh menyimpan ribuan luka tlah menundukan egonya, biar saja dunia menilainya bodoh karena memilih Kinar. Diantara banyaknya pilihan terbaik yang bisa dia dapatkan.
    Dia sudah memutuskan hatinya fokus untuk seorang dara bernama,Safitri Kinara.
 Bersambung

 Teman sejati adalah dia yang bisa mengetahui apa yang kau rasa meski kamu tidak bercerita.
dia melihat hatimu hanya melalui pandangan mata

See u My Dear



    

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Tuesday, January 8, 2019

Novelet Remaja: Hijab Jingga Kinar Bagian I

 cicih surya     12:46 PM     Novelet     No comments   



 Purnama Terbaik


Aku tak diajari untuk membenci.

Layaknya lembayung senja

Tak marah digantikan malam

Seperti laut yang tenang menjadi muara segala nista dan cahaya

Beri aku luka untuk berkaca

Sahaya sang mahadaya

Pemilik semesta

Bisakah hamba

Wahai Raja?
               

 Dunia adalah tempat gelap dan terang, siang dan malam menjadi gambar. Mampukah membaca makhluk tuhan berakal? Jika tidak, belajarlah untuk mencerna, agar tak hanya bisa mencela tapi mampu menjadi cahaya. Jika itu kau tak mampu diam adalah permata.
                Malam ini semilir angin terasa sunyi seperti langkah gontai tanpa tenaga, Kinar gadis itu biasa disapa, rambutnya hitam berobak sebatas bahu biasanya dikuncir kuda tapi malam ini di biarkan tergerai beitu saja.
Dilemparnya kerikil ketengah laut yang tenang tanpa ombak. Purnama diatasnya diam saja enggan menjadi teman bicara. Sudut mata mulai alirkan anak sungai perih rasanya.
“Apa dosaku? Apakah bisa seorang anak memilih siapa yang menjadi orang tuanya” desisnya diantara perih yang menghujam jantungnya. Tangisnya membahana memecah kesunyian laut yang seolah mati suri, purnama semakin terang laut tenang kepedihan menghujam hingga kakinya terasa lemah tak kuat menahan beban berat badannya.
Menjerit –jerit menghujat siapa saja yang menyakiti. Arda, tante Miranda, Ibu, juga Sophia. Puas rasanya meskipun mereka tidak mendengarnya, tapi beban berat di dada rasanya sirna, dihapusnya air mata dengan punggung tangan, menarik nafas perlahan mengambil kembali ketenangan.
Melirik handfhone melihat jam, 22.57 angka yang ditunjukan gaway nya, menggela napas sejenak lalu berjalan cepat menuju parkiran. Motor meticnya setia menanti. Wajah ibu terus membayang membuat Kinar menjalankan motor seperti kesurupan.
Ibu menanti di teras rumah menanti putrinya dengan gelisah, pesannya dari tadi tak dibalas. Niat nelp pulsanya sekarat akhirnya perempuan paruh baya dengan daster hijau bermotif bunga itu hanya mengumpat.
Vario hitam metalik berhenti tepat di depannya, Kinar membuka helm dan segera mengajak ibu masuk “Harusnya ibu tidak menunggu di luar.”ujarnya iba melihat wajah ibu yang kurus dan pucat.
“Dari mana saja, ibu sudah bilang kalau terlambat pulang ,kabari.”
“Maap, Bu.  Pulsa Ki habis, Ki cuma punya quota” kilahnya  sembari menerima teh hangat yang diberikan ibunya.
“Makanlah, sayurnya sudah ibu hangatkan”
“Iya” jawab Kinar menurut, sambil berjalan menuju dapur.
Di meja tua Kinar makan ditemani ibunya. Sop sayuran tanpa danging cukup untuk mengganjal perutnya malam ini. Tak sampai sepuluh menit Kinar menghabiskan nasi di piringnya.
“Ki..., ada yang menggangumu lagi?” tanya wanita itu sambil menyentuh lembut jemari putrinya
“Dari mana Ibu tahu?”
“Aku Ibumu, Kedipan matamu bercerita semuanya padaku, Nak”
“Bu, bolehkah Ki tidak mengatakan pada Ibu?”
“Baiklah kau sudah besar ya...? mulai punya rahasia.” Balas sang ibu mencoba tersenyum meskipun hatinya gelisah melihat raut sedih sang putri.
“Peluk Ki saja” Kinar tersenyum dan mengelayut manja pada bahu kurus ibunya.
“Katanya punya pacar, tapi tidur masih harus dikelonin ibu.”Goda ibu sambil mencubit hidung mancung gadis cantiknya yang manja.
Sebelum tertidur Kinar seperti teringat sesuatu, setengah meloncat dia turun dari ranjang dan berlari mencari sesuatu di dekat rak tivi.
“Ibu lupa minum obat, minum dulu!” katanya dengan nada memaksa. Sang ibu menatapnya minta pengampunan. Kinar menggelengkan kepala.”Bu, lakukan untukku”
“Ibu bosan, Ki”
“Bu”
“Ki, malam ini saja, Ibu tidur tanpa obat” rengek ibunya manja. Kinar menggeleng lagi.
“Kuku ibu sudah berjamur, ketombe ibu besar-besar. Ibu harus disiplin minum obat.
“Ibu malas dengan mual dan muntahnya, Ibu bosan harus terus minum obat, setiap hari Ki “
“Besok Ki libur kita jalan-jalan, jadi kondisi ibu harus vit” rayu si cantik sambil tersenyum. Perempuan dengan rambut keriting dan ditumbuhi uban menyerah, diambilnya obat dari telapak tangan putrinya dan menelannya. Kinar tersenyum senang diciumnya kening Ibunya.”Hiduplah untukku ,Bu!” bisiknya sebelum kembali menyimpan gelas ke dapur. Sementara ibu menatap punggung putrinya sedih.
Meminum obat setiap hari, kondisinya tetap sakit sakitan. Terkena panas terlalu lama badannya demam,  menantang angin flu bertamu. Selalu ada saja yang membuatnya merasa tidak sehat. Sebenarnya semua sakit di badan sanggup diatanggung. Karena ada yang lebih sakit dari itu. Saat Risma harus berjuang supaya Kinar bisa diterima di sekolah, mulai dari TK sampai lulus SMU, masuk sekolah baru adalah perjuangan yang amat melelahkan, bukan karena biaya tapi karena Kinar tak memiliki Akta kelahiran. Entah nama siapa yang harus tercantum disana.
Pihak sekolah kemudian memang merahasiakan identitas Kinar sebagai anak yang terlahir tanpa terikat dengan pernikahan yang sah, tapi seperti menyimpan seonggok bangkai, bersama waktu selalu saja ada yang tahu jika Kinar tak mengetahui siapa dan seperti apa ayahnya.
Tatap mata menghina lebih menyakitkan dibanding seribu hinaan, dan tikaman jutaan pedang, Risma menangis menyesali diri setiap kali, Kinar meminta pindah sekaloh karena tak tahan dengan bullyng.
Hidup berpindah –pindah kota sudah jadi hal biasa untuk Risma dan Kinar, seorang sahabat baik meledeknya sambil bercanda
”Seperti diplomat saja setiap enam bulan harus pindah kota. Jika aku kaya akan ku buat sekolah khusus untuk Kinar. Kau Ibu yang hebat Risma.”
“ Aku hanya hidup untuk Kinar, dia tidak akan membuka mulut jika masih sanggup menghadapinya. Jadi jika dia sudah minta pindah artinya sudah sampai di level bahaya”
“Jaga dirimu, kabari aku jika kau butuh sesuatu”
“Kau akan jadi orang pertama yang tahu kabar kami”
“Kinar, Simpan ini. Kau akan membutuhkannya di tempat baru.”
“Terimakasih Tante Mira”
“ iya”
Penggalan-penggalan hidup selalu membayang saat rasa sakit mendera ,dan Risma harus terbaring seorang diri karena Kinar putrinya harus bekerja mencari nafkah untuk menyambung hidup mereka. Obatnya memang gratis, tapi beras dan lauk-pauk tetap harus di dapat dengan berjuang.
Pemimpin berganti era berubah tapi baginya tak ada yang berbeda, sama saja ,beban hidup semakin hari semakin berat, harga melambung, macet dimana-mana pekerjaan dengan upah layak sepertinya hanya mimpi indah, layaknya dongeng peri ajaib yang diceritakan pada anak sebelum tidur.
Dusta adalah sesuatu yang dianggap lumrah karena sudah terbiasa” Semoga Kinar tetap kau jaga dari para pendusta dan segala mara bahaya ya Rob. Meski aku perempuan yang berlumur dosa, Kabulkanlah doaku sebagai doa seorang ibu yang  yang kau janjikan dijawab tanpa ditangguhkan” rintih Risma lirih dalam sujud terakhir selepas senja.
Kinar adalah purnama yang menyejukan mata lelahnya, menjadi alasan mengapa dia harus tersenyum dan berjuang untuk sembuh dari sakit yang menggerogotinya.  Mengalahkan musuh terbesarnya saat ini yaitu kebosanan, kebosanan, dan kebosanan.
Berjuang melawan mual dan muntah, pusing seharian setelah meminum obat. Dokter yang merawatnya selalu berpesan disiplin jika ingin terus hidup. Kalahkan Rasa sakit agar mampu menyambut matahari esok hari. Bersambung

 Sakit apa sih Bu Risma sampe segitunya banget ? 
penasaran kan tunggu besok ya, datang lagi Kesini

Hidup tak pernah ada yang mulus sebab dunia adalah tempat manusia melalui ujian. Miliki hati yang kuat untuk melewati setiap jalan.

See you dear         

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Older Posts Home

Followers

Translate

Popular Posts

  • Pesan cinta mama
    Perintah tanpa alasan Argumen Atau sebuah penjelasan Yang dia tahu Hanya harus Tak punya frasa Tepat Agar kau percaya Cerita ind...
  • Cerita Tragis Perempuan
    Dia tak tampan Bukan hartawan Dia hanya sopan Dan itu yang istimewa Aku tertawan oleh senyuman Tersesat tak bisa pulang Rahasia Bint...
  • Cerbung:bismilah,Pelarian terbaik bag II
    Di cerita yang lalu kita berkenalan dengan seorang anak muda unik yang bekerja sebagai pemulung... dan sekarang kita akan simak kelanjutany...
  • cerbung: Perjalanan cinta Hijabers Nikendy V
    Memiliki aku itu mudah, yang sulit adalah mendapatkan hatiku,,,, masuk kedalam yukk cus ah...! Akhir sebuah pencarian Angin pagi yang me...
  • Puisi Nasehat pernikahan dari Ayah untuk Putrinya
    Menikah adalah sesuatu yang sakral dan mengharukan bukan hanya untuk anak tapi juga untuk orang tua. Biasanya mereka menitipkan pesan yang ...
  • Cerpen terbaru kunci sukses Mama
    Matahari ku Rara masih bersembunyi di balik selimutnya, padahal matahari mengelitiki matanya yang terasa perih saat harus di buka, sinar...
  • Cerita Manis sahabat
    Dear Mbak Devi Mbak Devi 10 tahun kita ga ketemu, Entah dimana keberadaanmu saat ini, di Jakarta atau pulang ke Padang. Kabar yang ku...
  • Cerita Tentang Seorang Nenek
    Nasehatnya... Peluknya... Bau tubuhnya Manjanya tak ada yang lebih indah Dari senyum tanpa gigi Milik Embah Masuk yuk kita bernostalgia t...
  • Pejantan Pilihan
    Sang pejantan Sore sudah lewat senja belum datang, tapi gelap gulita mungkin akan hujan, angin dari utara bertiup amat kencang, derit ran...
  • Novelet Remaja: Hijab Jingga Kinar bagian X
          Perjumpaan Kinar dengan ayahnya akhirnya menjadi nyata pertemuan yang merubah warna dunia Kinar. Lanjut yuk, masuk dan duduk manis jan...

Recent Posts

Categories

  • cerbung
  • cerita pendek
  • Kisah Inspiratif
  • Motivasi
  • Novelet
  • puisi cinta
  • ucapan di hari special

Unordered List

Pages

  • Beranda

Text Widget

Blog Archive

  • ▼  2019 (12)
    • ▼  October (2)
      • Kisah Inspiratif, Cerita SuksesTallia,Memulai deng...
      • Kisah Inspiratif, Cerita Sukses Anak Rantau
    • ►  January (10)
  • ►  2018 (30)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (7)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (7)
  • ►  2017 (68)
    • ►  December (2)
    • ►  November (5)
    • ►  October (7)
    • ►  September (3)
    • ►  August (8)
    • ►  July (7)
    • ►  June (7)
    • ►  May (5)
    • ►  April (8)
    • ►  March (16)

Blog Archive

  • ▼  2019 (12)
    • ▼  October (2)
      • Kisah Inspiratif, Cerita SuksesTallia,Memulai deng...
      • Kisah Inspiratif, Cerita Sukses Anak Rantau
    • ►  January (10)
  • ►  2018 (30)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (7)
    • ►  March (5)
    • ►  February (4)
    • ►  January (7)
  • ►  2017 (68)
    • ►  December (2)
    • ►  November (5)
    • ►  October (7)
    • ►  September (3)
    • ►  August (8)
    • ►  July (7)
    • ►  June (7)
    • ►  May (5)
    • ►  April (8)
    • ►  March (16)
Powered by Blogger.

Find Us On Facebook

Labels

  • cerbung
  • cerita pendek
  • Kisah Inspiratif
  • Motivasi
  • Novelet
  • puisi cinta
  • ucapan di hari special

Flickr Images

Labels

  • cerbung
  • cerita pendek
  • Kisah Inspiratif
  • Motivasi
  • Novelet
  • puisi cinta
  • ucapan di hari special

Download

Sample Text

Copyright © Rumah Kata | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Gooyaabi Templates